LHOKSEUMAWE – Plt. Ketua Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Kota Lhokseumawe menghadiri sesi wawancara interaktif yang diselenggarakan oleh RRI Kota Lhokseumawe pada Selasa (9/6/2026). Kehadiran jajaran MPD dalam dialog virtual ini merupakan bentuk respons cepat dan komitmen taktis dalam menata kembali fenomena pelaksanaan wisuda di tingkat satuan pendidikan dasar hingga menengah agar sejalan dengan regulasi.
Wawancara yang mengusung tema "Menata Kegiatan Wisuda Sekolah Sesuai Regulasi" tersebut diikuti secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting. Jalannya diskusi disiarkan langsung (Live) dari Studio Pro 1 RRI Lhokseumawe (89.3 FM) serta kanal YouTube RRI Lhokseumawe Official pada pukul 08.00 - 09.00 WIB dalam program Lhokseumawe Pagi Ini. Dialog pagi ini dipandu oleh Yuna selaku Host dan didukung oleh Yanto di bagian Gate.
Selain dihadiri oleh pihak MPD Kota Lhokseumawe, diskusi virtual ini juga menghadirkan narasumber lainnya untuk mengupas tuntas polemik wisuda sekolah dari berbagai sudut pandang, narasumber yang dimaksud adalah:
-
Drs. H. Mursyid Yahya, M.Pd (Plt. Ketua MPD Kota Lhokseumawe)
-
Asnani, S.Pd., M.Pd (Kepala SMPN 5 Lhokseumawe)
-
Yuswardi Mustafa (Tokoh Masyarakat)
Dalam dialog tersebut, ditegaskan bahwa prosesi wisuda sekolah sebenarnya bukanlah agenda wajib yang diatur oleh pemerintah. Kegiatan ini murni merupakan bagian dari tradisi atau budaya yang berkembang di lingkungan sekolah.
Pihak MPD juga menekankan pentingnya memperketat pengawasan di lapangan. Langkah penataan ini mendesak untuk diambil demi melindungi para Wali murid khususnya di wilayah Lhokseumawe dari beban biaya tambahan yang kerap kali tidak diperlukan. Setiap kegiatan yang melibatkan partisipasi wali murid harus berpijak pada asas sukarela, tidak membebani ekonomi keluarga, dan wajib mematuhi Regulasi.
Dari sisi pelaksanaan di sekolah, tidak dapat dipungkiri bahwa wisuda memang memiliki nilai positif sebagai momen apresiasi dan motivasi bagi siswa atas pencapaian akademik mereka. Kendati demikian, disepakati bersama bahwa acara pelepasan ini sudah semestinya dikemas secara sederhana, hemat biaya, dan tidak memberatkan keuangan wali murid.
Aspirasi dari masyarakat pun senada, di mana publik pada dasarnya mendukung perayaan kelulusan sebagai simbol keberhasilan siswa. Namun, tuntutan besar dari masyarakat adalah agar kegiatan kelulusan tersebut tidak dilakukan secara berlebihan atau dijadikan ajang komersialisasi oleh pihak tertentu, melainkan tetap menjaga fokus utama pada esensi pendidikan itu sendiri.
Bagi Anda yang ingin menyaksikan kembali rekaman utuh jalannya wawancara interaktif ini, silakan mengunjungi tautan siaran langsung YouTube berikut: https://www.youtube.com/watch?v=X_Czn7dmg_Q
.png)